Kamis, 12 Februari 2009

"Djogdja" Tak Pernah Mati Urusan Kreativitas Kaos

Kompas Yogya, Sabtu, 3 Januari 2009 10:38 WIB

Oleh Idha Saraswati, Lukas Adi Prasetya, dan Mawar Kusuma

Yogyakarta memang tak pernah mati dalam urusan kreativitas. Begitu juga dalam soal tanda mata berbentuk kaos. Di masa liburan, kaos bikinan "aseli" Dagadu, kaos Dagadu-dagaduan, kaos distro, hingga kaos buatan seniman saling bersaing merebut hati wisatawan.

Libur tahun baru menjadi musim panen bagi PT Aseli Dagadu Djogdja (ADD). Penjualan aneka kaos yang diproduksi perusahaan ini naik hingga 500 persen. Melihat keriuhan di Unit Gawat Dagadu (UGD) di Jalan Pakuningratan, Jumat (2/1) sore itu, kenaikan sebesar 500 persen terasa wajar. Rombongan pelajar hingga keluarga tampak berlalu-lalang memilih kaos-kaos yang paling menarik hati.

Dalam sehari, kini rata-rata PT ADD bisa menjual 5.000 kaos. Jika harga satu kaos rata-rata Rp 50.000, PT ADD mendapat omzet sekitar Rp 250 juta hanya dalam waktu satu hari. "Kalau tamunya dari Jakarta atau Bandung, rombongan satu bus itu bisa membelanjakan uang sampai Rp 10 juta," kata Marketing Communication Officer PT ADD Daniell Alkam.

Ia menjelaskan, total angka penjualan tersebut berlaku bagi semua merek kaos yang diproduksi perusahaan yang memakai lambang mata itu. Merek-merek kaos itu adalah Dagadu, Omus, Oblongpedia, Daya Gagas Dunia, Hiruk Pikuk, dan Dagadu Bocah.

Setiap merek kaos punya ciri tersendiri dengan segmen pasar yang tertentu pula. Dagadu sebagai merek utama masih lekat dengan plesetan kata ala Yogyakarta. Tulisan Djogdja mbikin orang ketawa sedjak doeloe, misalnya, terpampang di bagian muka sebuah kaos Dagadu warna hijau muda yang melekat dalam tubuh manekin. Tulisan itu dilengkapi dengan gambar kepala orang tua berjanggut putih sehingga calon pembeli tak perlu waktu lama untuk menelusuri asal mula plesetan itu.

Menurut dia, kreativitas merupakan nyawa PT ADD sehingga bisa bertahan selama hampir 15 tahun. Setiap bulan setidaknya ada 10-15 desain baru yang diluncurkan. Untuk mendukung kreativitas dari tim artistik, PT ADD rutin mengundang tokoh-tokoh yang dianggap memahami Yogyakarta untuk dimintai masukan. Desain Keseriusan menggarap desain kaos itu juga cara PT ADD untuk tetap eksis di tengah gempuran kaos bajakan atau yang disebutnya sebagai "ndagadu" alias mencoba menjadi Dagadu. "Pada akhirnya, konsumen akan memilih, kalau mau kualitas ya dia akan ke Dagadu yang asli," katanya.

Nyatanya, kaos Dagadu imitasi pun ikut laris. Kaos-kaos seharga Rp 12.500 per potong ini tersebar di sekitar 30 lapak kaki lima sepanjang Malioboro. Desainnya dibikin mirip dengan konsep Dagadu. Labelnya pun bertuliskan asli bikinan Dagadu.

Andre, salah seorang pedagang, mengaku dalam musim liburan seperti sekarang ia bisa menjual lebih dari 100 helai kaos sehari. Kaos paling laris adalah yang bergambar atau bertuliskan sesuatu yang lucu, nyeleneh, dan unik. Anak-anak dan remaja adalah konsumen terbesarnya.
Tema kaos biasanya dibuat dari hal yang umum sampai yang khas Yogyakarta. Ada yang bergambar andong dan bertuliskan Jogja Never Ending Asia atau bertuliskan Walau Awak Kurus, Tapi Hati Tulus. Ada juga kaos bertuliskan Jalan-Jalan di Malioboro dengan Sepeda Teringat Tahun 76.

Dengan harga yang murah-meriah, lantas, bagaimana dengan kualitas kaos-kaos itu? "Ya, tahu sendirilah kualitas bahannya, juga sablonannya. Dengan harga Rp 12.500 per potong, tanpa sablon pun itu sudah harga kaos yang murah," ujar Andre, sembari tertawa.

Kata Andre, sablonan mungkin akan nyaris hilang dan warna kaos akan pudar dalam hitungan tiga bulan. Akan tetapi, toh itu tak jadi soal buat pembeli. Dengan harga amat miring dan desain yang cukupan, kaos Dagadu-dagaduan ini lumayan buat oleh-oleh.

Selama liburan, kaos distro juga diminati. Kaos ini berciri gambar karakter atau bertuliskan kata-kata khas anak muda. Kaos-kaos semacam ini biasanya diproduksi terbatas dan hanya dijual di distro.

Seephylliz Infection, pembuat kaos distro yang punya outlet Seephylliz Shop House di depan Plaza Ambarrukmo, misalnya, membuat 100 desain sebulan. Satu desain dibikin 150-200 kaos.
Kaos buatan seniman juga ikut laris dan diburu wisatawan mancanegara. Pada puncak musim liburan, penjualan kaos-kaos ini bisa terdongkrak hingga 50 persen. Sentra penjualan kaos semacam itu antara lain di Kafe Kedai Kebun Yogyakarta.

Menurut salah seorang penggagas gerai kaos di Kedai Kebun, Andry Kurniawan Boy, kaos bukan sekadar buah tangan tetapi juga menjadi media publikasi karya seni rupa. "Kami mencoba mewadahi banyaknya karya bagus yang tidak terpublikasi, tapi layak dikoleksi," katanya.
Biasanya pembeli memilih berdasar desain gambar dan label senimannya. Meskipun baru hadir setahun, masa liburan seperti sekarang telah membuatnya kewalahan memenuhi permintaan. Begitulah kaos dari Yogyakarta, sudah lama menjadi tanda mata yang mengesankan. Sampai kini pun masih tetap diburu wisatawan yang punya selera menghadirkan sesuatu yang lebih "abadi" ketimbang sekadar cerita....



Kaos, Sandang yang Diburu karena Keunikannya

KOmpas Yogya, Sabtu, 3 Januari 2009 10:39 WIB

Perkembangan kaos sebagai salah satu produk yang diburu karena memiliki keunikan motif semakin berkembang di Yogyakarta. Boleh dikata, produsen kaos yang mengusung motif-motif identitas budaya Yogyakarta tetap diburu konsumen di tengah membanjirnya motif kaos bertemakan tokoh-tokoh kartun dan ikon dunia maya yang sedang tren saat ini.

Produk kaos Dagadu, misalnya, sampai sekarang selalu laris manis diborong wisatawan, terutama saat musim liburan. Jika pada hari biasa kaos yang diproduksi Dagadu laku terjual 1.500 potong per hari, maka pada saat liburan bisa terjual 4.000-5.000 potong setiap hari.
Produsen kaos Jaran, yang awalnya dikenal memproduksi motif etnik dari seluruh wilayah Nusantara, masih diminati konsumen hingga kini. Dengan mengubah konsep motif yang semula "murni" etnik menjadi etnik kontemporer, Jaran selalu mendapatkan order kaos 1.000-2.000 potong setiap bulan.

Kendati demikian, kaos-kaos distro-yang biasanya menonjolkan motif gambar karakter/kartun-juga laris diburu wisatawan saat liburan. Artinya, bisa dikatakan bahwa kaos tak lagi melulu berfungsi sebagai penutup tubuh, melainkan telah menjadi bagian dari identitas yang hendak ditonjolkan pemakainya.

(BIMA BASKARA/LITBANG KOMPAS)

Kaos: Rezeki Rakyat, Palaian Rakyat

Kompas, Minggu, 12 Oktober 2008 03:00 WIB
Frans Sartono & Ilham Khoiri

Bandung bukan saja ibu kota Priangan, tetapi juga ibu kota per-kaos-an. Di ibu kota Provinsi Jawa Barat ini, kaos oblong alias T-shirt telah menjadi industri rakyat. Kaos menjadi penghidupan ribuan orang yang terlibat dalam proses pembuatannya.

Mari kita tengok kawasan Suci, sentra industri kaos di seputar Jalan Surapati, Cicaheum, Bandung. Di kawasan ini ada tak kurang dari 300 produsen kaos. Musim pemilihan kepala daerah alias pilkada—terlebih pemilu—merupakan masa panen bagi pelaku usaha kaos di Suci beserta ribuan karyawan mereka.

”Untuk kaos pilkada gubernur di Bandung kemarin saja, pesanan mencapai delapan juta potong. Jumlah itu menyebar, dikerjakan oleh banyak pabrik,” kata Marius Widyarto Wiwied, pengusaha kaos ”cap” C59.

Tahun 2008 ini memang menjadi masa panen besar. Pasalnya, di negeri yang sedang dimabuk demokrasi ini, pada kurun 2008 terjadi 40 pilkada, mulai pemilihan bupati, wali kota, dan gubernur. Dan jangan lupa, calon anggota legislatif alias caleg DPR dan DPRD juga ikut pesan kaos yang tentu saja bergambar diri sendiri sedang memakai jas berdasi. Pesanan itu datang dari berbagai penjuru seperti Kalimantan Timur, Lampung, Palembang, Bali, sampai Mimika.
Setiap pilkada, datang pesanan antara 15.000 sampai 500.000 potong kaos. Setidaknya itu menurut catatan Marnawie Munamah, Ketua Umum Koperasi Pengrajin Sentra Kaos Suci. ”Nomor (urut) belum turun saja sudah banyak yang memesan. Apalagi, setelah penentuan nomor urut calon, pesanan bisa dua kali lipat,” kata Marnawie.

Mengapa para pemesan memilih Bandung? Menurut Wawan Gunawan, pengusaha kaos dari konfeksi Planet Production, sentra kaos Bandung bekerja dengan semangat pasukan gerak cepat. Industri milik Wawan yang didukung 125 karyawan, misalnya, mampu melayani 25.000 kaos dalam sehari.

Wawan mulai berbisnis kaos sejak tahun 1998. Kini, sudah punya empat pabrik, dengan produksi rata-rata 500.000 potong kaos per bulan. Kaos itu umumnya diproduksi untuk memenuhi pesanan dari berbagai perusahaan, seperti perusahaan rokok, operator telepon seluler, atau perbankan. Sejak tahun 2004, dia banyak menerima order kaos untuk pilkada.
Menurut Wawan, pesanan untuk pilkada lumayan besar jumlahnya, mencapai sekitar 300.000 potong per bulan. Kaos itu biasanya dibuat dari bahan hyget yang murah dengan harga jual Rp 5.000 per potong. Satu partai atau calon kepala daerah biasa mesan sekitar 5.000 potong per satu desain. Keuntungan yang dikantongi hanya sekitar lima persen. ”Tak besar untungnya, tapi kalau pesanan banyak dan terus, itu bisa menghidupi produksi,” kata Wawan.

Dalam musim ramai pesanan itu, Wawan dan kawan-kawan mesti waspada. Pada tahun 2004, banyak rekan usahanya merugi, bahkan sampai gulung tikar, karena pesanan kaos tidak dibayar. Aris, seorang pengusaha kaos, merugi Rp 85 juta karena ada beberapa parpol yang tidak menebus pesanan kaos. Woah!

Penghidupan mandiri

Industri kaos di Bandung tumbuh sejak tahun 1980-an. Pada awal era itu, usaha kaos dikerjakan beberapa produsen saja, seperti C59, Christine Collection, dan Q. ”Saya masih memproduksi sekitar 60.000 potong pe bulan untuk kaos pesanan dan 50.000 potong untuk ritel,” kata Widyarto Wiwied, pendiri C59 yang termasuk pelopor bisnis perkaosan Bandung.

Setelah krisis moneter tahun 1997, kaos impor dari mancanegara semakin mahal. Akhirnya banyak yang memproduksi sendiri untuk dijual di pasar dalam negeri. Tahun 2000-an, tumbuh kaos yang diproduksi di rumahan untuk dipasarkan di jaringan distro, seperti dengan merek 347, Ouval, Airplane, Evile, dan Eat.

Industri kaos Suci tumbuh justru ketika krisis ekonomi tengah melanda negeri ini tahun 1998. Orang-orang yang kehilangan pekerjaan saat itu bertahan hidup dengan menyablon kaos dan mendirikan warung kaos di sekitar Suci. Kaos rupanya memberi mereka kehidupan sampai hari ini.

Salah satunya adalah Yayan Suryana (38) yang telah tiga tahun ini hidup dari pembuatan kaos di Suci. Mula-mula pria asal Majalaya, Kabupaten Bandung, ini kebagian peran sebagai buruh perapih jahitan bahan kaos dengan bayaran Rp 200.000 per minggu. Itu tiga tahun lalu. Dengan belajar dan dukungan dari majikan, perlahan ia mengerti berbagai proses produksi kaos.
”Sekarang saya naik pangkat jadi tukang obras. Nanti kalau sudah ada modal dan keahliannya bertambah, saya ingin mandiri. Majikan saya sudah mengatakan akan membantu bila anak buahnya ingin membuka usaha sendiri,” kata Yana.

Beberapa pengusaha kaos Bandung menggunakan semangat memandirikan karyawan. Farhad, Kepala Produksi Undersight, salah satu produsen clothing di Bandung, mengatakan industri kaos tidak sekadar melulu mengejar ekonomi. Proses mandiri membuat manusia menjadi lebih produktif. Hal itu dibuktikan adanya keinginan pekerja untuk mandiri mengembangkan usahanya.

Perry Tristianto, pengusaha sejumlah factory outlet (FO) di Bandung, misalnya, mendorong karyawannya untuk membuka usaha sendiri. Evita Farizca (33) adalah salah seorang karyawan di usaha FO milik Perry yang kini mempunyai usaha clothing sendiri sejak setahun lalu. Siang kerja di FO milik Perry, malam hari ia jalankan usaha pembuatan kaos bermerek 789.
”Modalnya hanya pesanan kaos dari teman. Saya membuat desain, membeli bahan, dan menjahitkan ke konfeksi. Kemudian saya pinjam uang dari teman untuk beli mesin jahit besar,” katanya.

Seluruh proses produksi—mulai dari membuat desain kaos, membeli bahan, memotong, menjahit, menyablon, sampai mengepak—dikerjakan sendiri. Usaha Evita berkembang. Kini dia bisa membeli beberapa mesin jahit sendiri, alat sablon, printer besar, dan printer untuk membuat film desain kaos. Karyawannya sekitar sembilan orang.

Menurut Widyarto Wiwied, jumlah perajin kaos rumahan di Bandung sekitar 800 orang. Adapun jumlah produsen kaos pabrikan di Bandung sekitar 100 pabrik. Kelompok distro di Jalan Sultan Agung-Trunojoyo sekitar 20-an toko distro. Itu belum termasuk di pelosok lain Bandung seperti Jalan Riau, Sultan Agung, dan lainnya. Soal merek yang banyak beredar dan dikenal di Bandung, mungkin jumlahnya mencapai 500 merek.

Rezeki kaos dari satu produsen itu menyiprat juga ke para pendesain, penjahit, penyuci, sampai pengepak. Bahkan lebih jauh lagi ke tukang es durian dan tukang jajanan yang dipastikan berjualan di depan FO atau distro di Bandung.


Lebih "Playful"
Minggu, 12 Oktober 2008 03:00 WIB

Desain grafis kaos punya tren yang berubah-ubah. Sekarang, trennya sedang mengarah pada visual yang memperlihatkan semangat bermain alias playful. Desainer bekerja dengan hasrat berekspresi secara bebas.

Grafis kaos sekarang banyak dipenuhi berbagai ikon pop yang dicomot dari jalanan atau internet secara instan. Gambar-gambar itu lantas diolah dengan teknik kolase sehingga membentuk visual yang segar. Beberapa diberi tambahan teks yang nakal.

Dilihat dari bentuk gambarnya, corak grafis sekarang lebih eklektif karena mencampurkan berbagai gaya sekaligus. Tak hanya bertolak dari gaya gotik atau tribal yang populer pada masa lalu, grafis kaos sekarang banyak mengutak-atik tipografi huruf, atau mengolah elemen rupa abstrak. Teknik drawing, semprot dengan air brush, dicetak bebas, atau lukisan diperlakukan secara bebas.

”Sekarang serba bebas. Semuanya bisa diserap dan diolah,” kata Andru, desainer kaos Backside Production di kawasan Pasirluyu, Bandung.

Saking getolnya bermain visual, banyak grafis yang menawarkan corat-coret yang meaningless alias tanpa pesan yang jelas. Minat beli konsumen dirangsang lewat penampilan visual yang segar dengan warna-warni hasil cetakan full printed. ”Banyak yang pakai warna mentah, seperti sengaja menolak disiplin ilmu warna dalam lingkungan akademis,” kata Dendy Darman, desainer brand Unkl 347.

Hanya saja, kemudahan mengakses gambar-gambar populer di internet membuat banyak kalangan khawatir, desainer makin terjebak pada pola jiplak-menjiplak. ”Kalau desain yang lagi tren seperti gambar tengkorak terus diulang, lama-lama pasar jenuh juga,” kata Hanafi Salman, desainer kaos Mahanagari.

Bagaimanapun, konsumen memang lebih menghargai desain yang segar, bahkan termasuk teks-teks nakal yang menggoda. ”Selera konsumen kadang aneh. Saya pernah buat grafis kaos untuk anak dengan teks ’Where is my fucking milk?’. Ternyata laku keras,” kata Perry Tristianto, pemilik The Big Price Cut Group, perusahaan pemasaran kaos di Bandung.

Dalam konteks seperti itu, desain kaos untuk kampanye partai politik, pilkada, atau calon anggota legislatif yang hanya mengulang komposisi logo partai, foto calon, dan slogan yang begitu-begitu saja tentu semakin kehilangan daya pikat. Bukannya tertarik, masyarakat mungkin malah bosan dengan tampang para politisi yang diobral dengan cara begitu.
Kepala Divisi Desain Industri Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung (ITB) Dudy Wiyancoko berharap, industri kreatif kaos di Bandung sebaiknya tak berhenti pada eksplorasi desain grafis. Penggiat industri kaos juga harus mengembangkan kaos dengan bahan terbaik yang nyaman dipakai konsumen. ”Di luar negeri, kita tidak hanya dituntut bersaing dengan grafis, tetapi juga dengan teknologi pembuatan kain kaos,” katanya. (iam/che/bay)


Rebel With a "Kaos"
Minggu, 12 Oktober 2008 01:32 WIB

Rebel Without a Cause: inilah film yang semakin memopulerkan kaos oblong alias T-shirt, terutama di kalangan kaum muda pada paruh kedua era 1950-an. James Dean, aktor utama dalam film produksi tahun 1955 itu, mengenakan kaos oblong, celana blue jeans dan tentu saja jaket merah—jangan lupa pula rambut jambulnya. T-shirt, jins, dan jaket kulit kemudian menjadi semacam simbol pemberontakan kaum muda.

Sebelumnya, Marlon Brando mengagetkan dunia mode dengan kaosnya lewat film A Streetcar Named Desire tahun 1951. Dalam poster resmi film arahan sutradara Elia Kazan itu tampak Brando mengenakan T-shirt putih dengan lengan tergulung sehingga memperlihatkan lengannya yang gempal. Ia tengah memeluk Vivien Leigh, aktris rekan mainnya dalam film tersebut. Kaos sejak itu menjadi alternatif gaya berpakaian kaum muda.

Marlon Brando dan James Dean adalah pemberontak yang menjadikan kaos populer lewat film layar lebar. Perlu dicatat, mereka saat itu menggunakan kaos polos tanpa sentuhan grafis sedikit pun.

Kaos terbukti diterima kaum muda. Buku The T-Shirt: A Collection of 500 Design yang disusun Luo Lv, Zhang Huiguang menuliskan pada paruh kedua 1960-an, kaos telah menjadi medium penyampai ekspresi, identitas kelompok, dan protes.

Generasi Bunga dengan kaum hippies-nya menggunakan kaos ikat-celup sebagai identitas kaumnya. Model ini menyebar hingga Indonesia sampai ke tingkat kampung-kampung. Muncullah kaos yang dicelup ke dalam cairan pewarna wantek. Sebelumnya, kaos diikat dengan senar—seperti teknik jumputan.

Protes kaum muda pada kebijakan perang Vietnam di akhir 1960-an melancarkan protes damai dengan kaos ”Make Love Not War” dan ”Give Peace a Chance”. Salah satu pemakainya adalah John Lennon, penggubah lagu ”Give Peace a Chance”. Simbol perdamaian, peace, rancangan Gerald Holtom yang berbentuk seperti kemudi mobil itu tertera di kaos dan dikenakan orang di mana-mana, termasuk Indonesia.

Sejak itu kaos tak pernah lepas dari kultur kaum muda dan mereka yang berhati muda. Kaos menjadi penyampai segala bentuk ”ideologi” dari musik, selera, sampai politik.

Ini merupakan ”evolusi” karena sebelumnya kaos adalah undershirts alias pakaian dalam yang lewat proses panjang menjadi pakaian luar dan bagian dari pop culture. Tahun 1913 angkatan laut AS menjadikan T-shirt sebagai pakaian pelapis resmi. Prajurit yang ditempatkan di daerah berhawa panas sering hanya mengenakan T-shirt. Sejak saat itu, tepatnya pada tahun 1920, T-shirt masuk entri dalam kamus Merriam—Webster.

Dinamika mode tak pernah berhenti. Mereka yang mengingkari putaran mode akan berisiko menjadi out of date atau penghuni museum. (XAR)

Berdemokrasi Lewat Kaos

Minggu, 12 Oktober 2008 03:00 WIB
ilham khoiri

Apa pentingnya sebuah T-shirt alias kaos? Lebih dari sekadar pakaian yang nyaman untuk alam tropis, kaos juga efektif sebagai sarana berdemokrasi. Lewat bermacam teks dan gambar yang sebagian disablon sendiri di atas kain kaos, banyak anak muda yang mengekspresikan diri, melontarkan kritik, serta meletupkan spirit kebebasan yang menerabas kemapanan.

Semangat anak-anak muda di Bandung, ibu kota Jawa Barat, mungkin bisa mewakili gejala semacam itu. Bersamaan dengan tumbuhnya industri kaos di sana, merebak pula berbagai grafis kaos yang menyuarakan aspirasi kaum muda. Fenomena ini mudah tertangkap jika kita mau keluyuran sebentar untuk melongok puluhan distribution outlet alias distro di sepanjang Jalan Trunajaya dan Jalan Sultan Agung yang menjajakan beragam merek kaos.

”After ten years, friends call us unkle”. Begitu teks yang tercetak di atas banyak kaos produksi Unkl 347, sebuah brand kaos yang lagi ngetop di kalangan kaum muda Bandung. Meski kaosnya dihiasi bermacam gambar unik- unik, teks tersebut masih kerap disertakan.

”Setelah 10 tahun, kita kan sering disapa ’om’ oleh teman-teman kita sendiri yang sudah pada punya anak. Grafis kami memang menceritakan hal-hal sederhana seputar diri kita,” kata Dendy Darman, Kamis (9/10) lalu. Lulusan Desain Grafis Institut Teknologi Bandung (ITB) itu membangun brand 347 sejak tahun 1996.

Mahanagari, brand kaos lain, memilih untuk lebih menggarap budaya Bandung. Salah satu kaos rancangannya menyematkan tulisan besar-besar: ”F=V=P”. Teks ini segera mengingatkan kita pada lidah banyak orang Bandung yang suka gelepotan saat mengucapkan konsonan F, V, dan P dengan bunyi lafal yang sama.

”Kaos ini laku keras karena banyak orang merasa, wah teks itu gue banget,” kata dua desainer Mahanagari, Ben Wirawan dan Hanafi Salman.

Mau yang agak sangar? Ucok, vokalis band Homicide (1994-2007), bersama teman-temannya, pernah membuat kaos khusus untuk menyambut Pemilu 2004. Merasa kehilangan kepercayaan pada para calon presiden dan anggota legislatif yang akan dicoblos dalam pemilu, mereka mencetak kaos bertuliskan: ”Who ever they voted for, we are ungovernable”.

”Ya, siapa pun yang mereka coblos dalam pemilu, kita memang tak bisa diperintah,” kata Ucok, yang sejak tahun 2007 lalu membentuk band baru, Triggermortis.

Daftar teks atau gambar kaos yang menyentil atau menarik perhatian semacam itu bisa dirinci lebih panjang lagi. Soalnya, di Bandung sekarang ini, ada lebih dari 500 merek yang aktif memproduksi total jutaan kaos setiap bulan, yang dipasarkan distro, factory outlet, atau pusat perbelanjaan. Kaos-kaos itu kini jadi fashion statement atau sarana untuk menyuarakan aspirasi.

Komunitas

Bagaimana kaos yang biasanya dikenakan sebagai pakaian yang nyaman untuk alam tropis itu menjelma jadi fashion statement? Bersamaan dengan tumbuhnya industri kaos lokal pascakrisis ekonomi tahun 1998, banyak orang yang mencoba memanfaatkan kaos sebagai sarana berekspresi, terutama lewat teks dan gambar sablonan atau cetakan.

Unkle 347, Eat, Ouval Research, Monic Celtic, Airplane System, atau God Inc—untuk menyebut beberapa—termasuk brand yang merintis fenomena itu. Pada awalnya, mereka kerap memproduksi kaos secara terbatas untuk melayani kebutuhan komunitas musik, terutama band-band underground.

Kimung, penggiat kelompok Ujungberung Rebel, mengungkapkan, kelompok musik underground seperti Puppen, Jasad, Burgerkill, dan Forgotten membuat kaos secara indies untuk mengikat hubungan emosional antara penggemarnya. ”Kaos bergambar logo band atau cover album jadi identitas kelompok,” katanya.

Lama-lama, gejala ini semakin menyebar luas. Kaos juga diproduksi untuk beragam komunitas anak muda yang diikat oleh kesamaan hobi, olahraga (seperti skateboard dan surfing), atau ideologi tertentu. Setiap kaos jadi semacam talking shirt untuk menyatakan identitas kelompok. Kaos juga digarap untuk menyuarakan apa saja, mulai dari hal-hal sepele di sekitar mereka, kritik atas kemampatan sosial-politik, subversi terhadap budaya mapan, atau sekadar jadi ekspresi personal.

”Saya punya dua lusin kaos bergambar tengkorak. Tengkorak itu mewakili semangat kebebasan, keberanian,” kata Onesun (39), penggemar olahraga skateboard di Bandung.
Di Jakarta, Adrie Subono (54), promotor pertunjukan dari Java Musikindo, mengaku 90 persen pakaian sehari-harinya adalah kaos. Sebagian besar kaos itu berwarna gelap, terutama hitam. ”T-shirt itu comfortable, fashionable, bikin kita rileks, dan lebih cocok untuk udara di sini. Saya lebih percaya diri pakai kaos daripada pakai baju he-he-he...,” kata lelaki yang tinggal di bilangan Pondok Indah, Jakarta Selatan, itu.

Demokrasi

Di luar kelompok anak muda di Bandung atau pribadi seperti Adrie Subono, apa pentingnya kaos bagi kehidupan masyarakat umum?

Menurut Bambang Sugiharto, pengamat budaya dari Universitas Parahyangan, Bandung, kaos bisa mencerminkan budaya egaliter dan demokrasi. Ketika mengenakan kaos, setiap orang akhirnya punya posisi yang sama, tanpa kelas.

”Beda dengan batik, kemeja, atau jas berdasi yang mencitrakan kelas tertentu, kaos tak memperlihatkan konteks sosial yang spesifik, dan memperlakukan orang secara setara, tanpa pandang bulu,” katanya.

Lebih dari itu, setiap potong kaos pada dasarnya adalah ”billboard berjalan” yang menyediakan ruang visual yang sama bagi setiap orang untuk bicara, berekspresi. Kekuatan kaos ini relevan dengan kebutuhan individu atau kelompok masyarakat kontemporer yang selalu berhasrat untuk menyatakan diri.

Meminjam istilah filsuf Perancis, Jean-Fran├žois Lyotard, fenomena berdemokrasi lewat kaos sekarang ini mencerminkan kebangkitan narasi-narasi kecil. Meski kadang bersifat personal atau sulit diidentifikasi secara ketat, tetapi kemunculan narasi kecil selalu dibutuhkan untuk menyegarkan narasi, ideologi, atau otoritas besar yang terlalu mapan. Kemapanan yang banyak dipertahankan oleh orang-orang yang gemar dengan pakaian seragam (atau pikiran yang diseragamkan). (Frans Sartono/Cornelius Helmy/Dwi Bayu Radius)

Menjadi Modern dengan Kaos

Oleh ANTARIKSA

Dibanding jenis pakaian lainnya, sejarah kaos oblong [1] sebenarnya belumlah terlalu panjang. Kemungkinan besar kaos baru muncul antara akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Kaos berbahan katun biasanya dipakai oleh tentara Eropa sebagai pakaian dalam (di balik seragam), yang fleksibel dan bisa dipakai sebagai pakaian luar jika mereka beristirahat di udara siang yang panas. Istilah "T-Shirt" (metafor yang mungkin diambil berdasar bentuknya) baru muncul di Merriam-Webster's Dictionary pada 1920, dan baru pada Perang Dunia II ia menjadi perlengkapan standar dalam pakaian militer di Eropa dan Amerika Serikat (T-Shirt King).

Kaos oblong mulai dikenal di seluruh dunia lewat John Wayne, Marlon Brando dan James Dean yang memakai pakain dalam tersebut untuk pakain luar dalam film-film mereka. Dalam A Streetcar Named Desire (1951) Marlon Brando membuat gadis-gadis histeris dengan kaos oblongnya yang sobek dan membiarkan bahunya terbuka. Dan puncaknya adalah ketika James Dean mengenakan kaos oblong sebagai simbol pemberontakan kaum muda dalam Rebel Without A Cause (1955) (Cullum-Swan dan Manning, 1990). Teknologi screenprint di atas kaos katun baru dimulai awal "60-an dan setelah itu barulah bermunculan berbagai bentuk kaos baru, seperti tank top , muscle shirt , scoop neck , v-neck dsb.

Fashion, Kaos, dan Komunikasi

Meski sudah mulai mendunia sejak "50-an, konvensi mode dunia tetap saja belum memasukkan kaos ke dalam kategori fashion . Kaos tetap saja dianggap sebagai pakaian dalam yang tidak pantas dikenakan sebagai pakaian luar. Memakai kaos masih juga dianggap sebagai tindakan yang unfashion. Karena itu pada masa musik heavy metal mulai digemari kalangan muda, mereka ini sengaja memilih seragam kaos oblong sebagai bentuk penolakan terhadap konvensi arus utama mode dunia ( high fashion ) (McRobbie, 1999). Menyobek beberapa bagian dari kaos oblong bahkan merupakan bagian dari gaya subkultur punk. Bagi mereka ini bentuk fashion adalah unfashion (Hebdige, 1999).

Perubahan dalam bahan dan teknologi produksi kaos turut berperan dalam perubahan makna kaos dalam kehidupan sosial. Ditemukannya polyester dan bahan-bahan fiber artifisial, bersamaan dengan diperkenalkannya bahan drip-dry untuk pembuatan pakaian, penambahan variasi warna, gaya dan tekstur, membuat kaos semakin diterima sebagai pakaian luar. Meski begitu, dalam diferensiasi sistem fashion, hingga sekarang kaos masih digolongkan dalam kategori low fashion ( unfashion? ). [2] Berbeda dengan produk high fashion yang didesain dan dibuat secara khusus untuk orang-orang khusus, hampir semua kaos merupakan low fashion yang didesain untuk tujuan diproduksi secara massal. [3]

Variasi kaos sebagai pakaian luar sekarang ini sangat beragam. Kaos diproduksi baik dalam warna-warna primer maupun dalam kombinasi yang lebih kompleks, beberapa di antaranya dilengkapi dengan saku untuk menyimpan alat tulis, rokok, atau benda kecil lainnya. Dengan begitu kaos tidak hanya dipakai oleh kalangan muda, laki-laki, atau mereka yang berasal dari golongan bawah saja, tetapi juga dipakai oleh siapa saja. Kita juga melihat kaos dipakai dalam berbagai aktivitas, dari bekerja hingga mengisi waktu senggang, seperti jalan-jalan di pusat pertokoan atau bermain golf.

Kaos oblong sekarang ini juga telah menjadi wahana tanda. Kaos, sebagaimana pakaian lainnya, membawa pesan dalam sebuah "teks terbuka" di mana pembaca atau penonton bisa menginterpretasikannya. Berbagai bentuk, gambar, atau kata-kata dalam kaos merupakan pesan akan pengalaman, perilaku dan status sosial. Kaos oblong mengkomunikasikan berbagai lokasi atau identitas sosial: tempat (HRC, Borobudur, Bali, Yogyakarta), bisnis (Coca Cola, Yamaha, Suzuki), institusi (UGM, UI, ITB, De Britto). Kaos oblong lainnya mengkomunikasikan kelompok atau kolektivitas (Canissi Seminarium, Pro Iustisia), tim (MU, Inter Milan), konser atau acara kesenian (Jakjazz, Pameran AWAS!), komoditas yang dianggap bernilai (VW, Harley Davidson), pengalaman ceremonial (KKN UGM 2000), sementara banyak juga yang mengkomunikasikan slogan (Awas Pemilu 97 Curang, kaos-kaos Dagadu, Joger).

Betapapun klaim atas identitas atau status dalam kaos oblong ini bersifat ambigu, dalam terminologi Umberto Eco (1979), representasinya selalu bersifat undercoded , ia berhubungan secara synecdochical (satu bagian dari kaos mewakili keseluruhan pribadi seseorang) dengan pengalaman, relasi sosial, nilai, atau status yang diklaim secara eksplisit atau implisit oleh pemakainya. Pesan yang disampaikan dalam kaos bukanlah sekedar tentang tempat, kelompok, atau bisnis, tetapi klaim atas status pemakainya. Seorang pemakai kaos oblong Dagadu misalnya, bukan sekedar menyampaikan pesan bahwa kaos oblong yang dipakainya adalah buatan Yogyakarta, melainkan juga mau mengumumkan sebuah pengalaman yang menurut pemakainya cukup penting (ia seperti mau mengatakan,"Mari saya beritahu pengalaman saya jalan-jalan di Yogya"). [4]

Tetapi sekarang ini kaos oblong juga dipakai untuk mengkomunikasikan apa yang bukan bagian dari identitas seseorang. Misalnya, saya pernah melihat seorang ibu muda yang sedang berjalan mengandeng anaknya. Si ibu ini memakai kaos dengan tulisan "BITCH" di bagian depannya. Apakah si ibu ini tidak mengerti bahasa Inggris atau penguasaan bahasa Inggrisnya pas-pasan, sampai ia tidak mengerti bahwa bitch (anjing betina) adalah umpatan yang sangat kasar yang biasa dipakai untuk menyebut wanita jalang? Apalagi waktu itu ia sedang menggandeng anaknya. Bukankah si anak ini menjadi cocok dengan umpatan lainnya, son of a bitch ? Seandainya si ibu ini cukup mengerti bahasa Inggris, tentu yang mau dikomunikasikannya adalah "saya bukan bitch ". Ini semacam pendifinisian double negative, di mana seseorang mengklaim (secara ragu-ragu) keanggotaan pada kelompok tertentu yang tidak eksis. Si ibu tadi mengklaim keanggotannya pada kelompok "perempuan/ibu yang baik" tanpa menghadirkan kelompok yang diklaimnya ini. Hal yang sama juga terjadi pada kasus salah satu teman saya yang memakai kaos bergambar logo Golkar untuk menunjukkan pengejekannya pada Golkar atau untuk mengatakan bahwa ia bukan simpatisan Golkar.

Dengan semakin tumbuhnya industri periklanan, kaos merupakan bilboards mini yang cukup efektif untuk mengkomunikasikan sebuah produk, sebagaimana mengkomunikasikan diri atau identitas. Seringkali kaos dijadikan iklan berjalan yang oleh pengiklan kadang-kadang dibagikan secara gratis. Di Indonesia, adalah hal yang biasa banyak orang berebut mendapatkan pembagian kaos dari OPP pada saat Pemilu (tak jarang juga disertai pembagian "amplop"). Perusahaan-perusahaan sekarang ini juga membuat kaos dengan nama atau logo perusahaan yang tertera di atasnya (Coca Cola, Reebok, Nike, Wilson), dan menjualnya di toko-toko sebagai pakaian produksi massal yang siap pakai. Bagi sejumlah besar pemakainya, tentu memakai kaos oblong tidak dimaksudkan sebagai iklan, melainkan sebagai indikasi status dan pendapatan pemakainya, loyalitas atau kepercayaan pada satu produk. Ia juga merupakan suatu bagian dari identitas diri, "Saya adalah penggemar Coca Cola", "Seperti Michael Jordan, saya memakai Nike (bagaimana dengan Anda?)". [5]

Kaos-kaos buatan perusahaan tertentu dianggap mewakili gaya hidup atau selera yang khas, selain sekaligus si pemakai mengiklankan perusahaan pembuatnya. Misalnya kaos bermerek Benetton, Ralph Lauren atau Calvin Klein. Simbol-simbol tertentu pada kaos, seperti buaya kecil atau kuda poni dan pemain polo kecil (dan berbagai variannya), juga sangat penting. Simbol-simbol ini bukan hanya menunjukkan status pemakainya yang mampu mengkonsumsi pakaian buatan desainer mahal, tetapi juga status dalam sistem fashion itu sendiri (ketika kelompok desainer Parisian juga memproduksi kaos, apakah kaos menjadi high fashion ?).

Kaos dan Kehidupan Modern

Lebih dari jenis pakaian yang lain, sejarah kaos bukan saja menunjukkan cepatnya perubahan teknologi dalam industri garmen, melainkan juga menunjukkan bagaimana fashion bernegosiasi dengan ruang dan waktu.

Kaos semula hanya diakui sebagai pakaian dalam. Dan dalam kaitannya dengan pola penempatan ruang, sebagai pakaian dalam kaos adalah pakaian privat . Tetapi kemudian dengan negosiasi lewat media massa dan penemuan bahan serta model-model baru, kaos perlahan mulai tampil sebagai pakaian publik. Karena itu, sejalan dengan kecenderungan kehidupan modern, perjalanan kaos dari ruang privat ke ruang publik ini merupakan ekspansi ruang privat atas ruang publik (privatisasi ruang publik). Sementara dalam kaitannya dengan pola pemanfaatan waktu, kaos menunjukkan bagaimana waktu senggang semakin berhasil mengekspansi waktu yang lain dalam kehidupan sehari-hari. Kaos bisa dilihat sebagai bagian dari leisure class , yang menunjukkan statusnya dengan pemanfaatan waktu senggang sebesar-besarnya (Rojek, 2000). [6]

Persis seperti semboyan kaos oblong Dagadu " Smart and Smile ", kaos oblong mengajarkan bagaimana hidup modern harus dijalani: berpenampilan cerdas, ringkas, tangkas, sekaligus santai. Hidup dengan segala tetek-bengeknya yang rumit ternyata tidak harus dijalani dengan rumit pula, melainkan bisa dijalani dengan "seperlunya dan santai". Dalam perspektif ini, papan pengumuman di kampus-kampus yang berbunyi "Dilarang memakai kaos dan sandal" adalah warisan dari kehidupan masa lalu yang "serius" dan sebentuk "pendisiplinan gaya", yang tidak lagi cocok dengan semangat smart and smile . Karena itu mahasiswa tetap saja berkaos oblong di kampus, pertama-tama bukan untuk menunjukkan perlawanan langsung mereka kepada aturan hidup yang lama, melainkan untuk menunjukkan bahwa diri mereka sendirilah yang paling berhak atas penampilannya. Dan bagaimana mereka harus berpenampilan, salah satunya ditentukan oleh resepsi mereka terhadap media massa, yang juga mengajarkan smart and smile (misalnya semboyan iklan telepon genggam Nokia seri 3210, "Begitu kecil, begitu cerdas"). Jadi hidup modern dijalani dengan semangat mengisi waktu senggang. Inilah yang disebut estetikasi kehidupan sehari-hari yang mencirikan kehidupan modern (di mana "yang etis" bergeser menjadi "yang estetis"). Semangat kehidupan modern sebenarnya adalah semangat kaos oblong.

Referensi
Ajidarma, Seno Gumira, 2001, "Djokdja Tertawa, Disain Kaos Oblong DAGADU", Bernas , 12 Januari 2001.
Cullum-Swan, Betsy dan P.K. Manning, 1990, "Codes, Chronotypes and Everyday Objects", makalah disampaikan dalam konferensi The Socio-semiotics of objects: the role of artifacts in social symbolic process, 20-22 Juni 1990, University of Toronto. Tersedia di: http://sun.soci.niu.edu/~sssi/papers/pkm1.txt
Eco, Umberto, 1979, Theory of Semiotics , Indiana: University of Indiana Press.
Hebdige, Dick, 1999 (1979), Subculture, The Meaning of Style , London & New York: Routledge.
McRobbie, Angela, 1999, In the Culture Society, Art, Fashion and Popular Music , London & New York: Routledge.
Rojek, Chris, 2000, "Leisure and rich today: Veblen"s thesis after a century", Leisure Studies 19 (2000), hal. 1-15.
T-Shirt King, "History of American T-Shirt". Tersedia di: http://www.t-shirtking.net/history_of_t-shirts.html

Makalah ini disampaikan sebagai pengantar diskusi "Art on T-Shirt", Bentara Budaya Yogyakarta, 13 Januari 2001. Versi pendek tulisan initermuat di KOMPAS, 28 Januari 2001.

Catatan
[1] Dalam tulisan ini saya memakai kata kaos oblong dan kaos secara bergantian, keduanya menunjuk pada kata dalam bahasa Inggris t-shirt .
[2] Betsy Cullum-Swan dan P.K. Manning (1990) membuat diferensiasi fashion dengan lebih rinci, yang terdiri dari high fashion , mass fashion , dan vulgar fashion . Yang termasuk dalam high fashion adalah pakaian yang didesain secara khusus untuk orang-orang khusus dan dijual di outlet-outlet khusus. Dalam kecenderungan fashion dunia sekarang ini high fashion tidak bisa dilepaskan dari keberadaan para desainer profesional, utamanya yang biasa disebut sebagai desainer Parisian. Mass fashion di sisi lain lebih merupakan sebuah sistem mencipta, mendistribusikan, dan menjual salinan dari pakain karya para desainer. Sementara vulgar fashion merupakan pakaian yang diciptakan lewat produksi massal dari salinan mass fashion "selang beberapa waktu setelah sebuah produk mass fashion beredar di pasaran. Untuk diskusi ini, saya menyederhanakan diferensiasi ini menjadi dua bentuk saja, high fashion dan low fashion. Yang terakhir ini merupakan penggabungan dari mass fashion dan vulgar fashion .
[3] Karena itu pameran "Art on T-Shirt""yang disertai dengan penjualan secara terbatas kaos yang dipamerkan"bisa dilihat sebagi usaha menaikkan gengsi kaos atau usaha untuk memasukkan kaos ke dalam high fashion .
[4] Bagaimana pesan dalam kaos sampai ke pembaca/penonton adalah persoalan lain lagi. Untuk bisa dikatakan berhasil, klaim atas status atau identitas dalam pesan membutuhkan legitimasi dari pembaca/pentonton. Adalah tidak mungkin membuat interpretasi atasnya hanya berdasar pada kaos itu sendiri (klaim pemakainya). Setiap pesan dalam kaos sebenarnya sangat samar-samar ( equivocal ) dan pembaca/penonton mungkin tidak percaya dengan pesan-pesan itu. Bisa diselidiki lagi, apakah kaos bisa dijadikan alat manipulasi simbol status? (seperti kaos "Karl Marx, Since 1867" dalam pameran ini atau kaos-kaos bergambar Che Guevara), apa yang diklaim dan siapa yang mengklaim? Dengan kata lain, tanda ( sign ) dan wahana tanda ( sign vehicle ) pada kaos menyampaikan koherensi dan integritas representasional yang ambigu.
[5] Rojek (2000) memberikan gambaran yang rinci bagaimana selebritis menjadi kaya raya karena mengiklankan berbagai produk industri pakaian. Dan mereka ini pada gilirannya akan menjadi salah satu agen pencipta fashion yang sangat penting.
[6] Sisi lain dari hal ini adalah kaos juga merupakan komoditas dalam budaya konsumen yang keberadaanya tidak bisa dilepaskan dari leisure class . Ajidarma (2001) mengaitkan kaos dengan budaya pop yang selalu bergelut dengan pasar.

Alamat halaman ini: http://kunci.or.id/esai/misc/antariksa_kaos.htm
http://kunci.or.id/esai/misc/antariksa_kaos.htm

Berita Hangat di Kaos Adrian

"Berita Hangat" di Kaus-kaus Adrian
Ruangan di salah satu rumah di Jalan Riau Bandung itu layaknya kantor redaksi sebuah media. Di dinding bagian luar tampak foto-foto besar bak poster film, yang menggambarkan sebuah kejadian. Masuk ke dalam ruangan, tergantung ratusan kaus bertuliskan berbagai kejadian yang sedang hangat yang dimuat di koran-koran.

Ian's Report namanya. Memang bukan kantor redaksi sebuah media. Itu adalah distro milik Adrian Kristianto, pemuda kelahiran 29 Juli 1986.

Sejak lama kejadian-kejadian penting yang berlangsung di dunia, yang menghiasi halaman-halaman depan koran, menggelitiknya. Hal itu menjadi inspirasi Adrian untuk menuangkannya dalam bentuk gambar dan tulisan pada sebuah produk. Tentu bukan dalam bentuk tulisan di koran, namun dalam bentuk tulisan serta foto di kaus-kaus dan pin. Ia tidak memproduksinya dalam jumlah banyak. Barang-barang produk itulah yang jadi barang dagangan utama di distro Adrian.

Unik, demikian kesan yang segera tertangkap. Sebuah kaus produknya bergambar sebuah pesawat terbang berwarna merah. Biasa saja kalau dilihat dari depan. Namun, di baliknya, di bagian punggung, tertulis nama lengkap penumpang beserta kru Adam Air yang dinyatakan hilang sampai sekarang dalam penerbangan Surabaya - Manado awal Januari lalu.
Kaus yang lain, bergambar seorang wartawan lengkap dengan alat foto dan rompi antipeluru, tengah ditodong senjata oleh tentara Amerika. Kaus itu bertuliskan "The Truth is Out Dare, They Shot First Journalist".

"Semua itu memang saya ambil dari kejadian yang sedang populer. Seperti banyaknya wartawan yang mati di medan perang, lalu hilangnya pesawat Adam Air yang masih misterius. Saya juga membuat berita tentang penggantungan Saddam Hussein," kata Adrian. Di kaus yang ia sebutkan terakhir itu terdapat juga foto Saddam Hussein yang tengah dikalungi tali gantungan.

Bukan hanya peristiwa-peristiwa yang berbau politik yang menjadi perhatian Adrian. Kasus smack down yang membawa korban anak sekolah, juga tak luput diabadikannya dalam produk kausnya, dengan tulisan "Stop Smack Down Before Die". Kaus lain bertuliskan "Journalism Not Terrorism".

Berita dari dalam negeri tentang merebaknya flu burung juga jadi perhatiannya. Salah satu tulisan berbunyi "Flu Burung Dapat Dikendalikan, Jangan Panik", ia akui ia cuplik dari judul sebuah surat kabar yang memuat berita tentang hal tersebut. Masih banyak lagi tulisan yang menggelitik.

Ide Adrian memang bukan orisinal. Di Yogya orang mengenal "panrik" permainan kata-kata melalui produk Dagadu. Di Bali, Joger juga memproduksi barang sejenis. "Saya dapat masukan dari teman-teman. Karena mengejar berita yang up to date, jadi saya memang membuat jumlah terbatas untuk produk distro ini," ujar Adrian, yang tengah menyelesaikan sekolahnya di Perth, Australia.

Pemuda lajang asal Bandung itu memang disiapkan orangtuanya untuk menjadi penerus kerajaan bisnis keluarganya. Sebagai awal usahanya, ia membuka sebuah distro yang modalnya berasal dari sang ayah. Pengetahuannya akan dunia internasional, mampu melahirkan ide-ide segar untuk sebuah kreativitas. "Sekalipun saya hidup di luar negeri sejak kecil, tapi saya cinta Bandung. Saya akan balik dan membuka usaha di sini," katanya sambil tersenyum. [Ars/A-18]

Last modified: 1/2/07 Suara Pembaruan